

Dosen Bahasa dan Sastra Arab, UIN STS Jambi, Jadi Maestro Aksara Arab Melayu di Kegiatan Bimtek Revitalisasi Bahasa Daerah
Jambi, 24 Juli 2025 — Balai Bahasa Provinsi Jambi kembali menggelar kegiatan strategis dalam rangka revitalisasi bahasa daerah, khususnya Bahasa Melayu Jambi. Kegiatan Bimbingan Teknis Guru Utama ini berlangsung sejak 07 hingga 10 Juli 2025 di Gedung Training Cetra (GTC) Sutha Inn Kota Jambi, 14 hingga 17 Juli 2025 di Gedung PKK Kabupaten Batanghari dan 21 hingga 24 Juli 2025 di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muaro Jambi.
Salah satu sorotan utama dalam kegiatan ini adalah kehadiran Faridl Hakim, M.A., dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. Beliau dipercaya sebagai maestro dalam sesi “Menulis dan Membaca Aksara Arab Melayu”, yang diselenggarakan pada Kamis, 10, 17, 24 Juli 2025.
Dalam sesi tersebut, Faridl Hakim tidak hanya menyampaikan materi secara teoritis, tetapi juga memandu praktik intensif membaca dan menulis aksara Arab Melayu kepada para peserta yang terdiri dari guru-guru utama se-Provinsi Jambi. Sesi ini dinilai sebagai salah satu bagian penting dari upaya pelestarian identitas kebahasaan lokal yang sarat nilai sejarah dan budaya serta akan diadakannya Tunas Bahasa Ibu Provinsi Jambi yang kegiatannya berbentuk Lomba Tujuh bahan Ajar meliputi Aksara Arab Melayu, Puisi, Lawakan Tunggal, Dongeng, Cerpen, Pidato Berbahasa Melayu dan Tembang Tradisi.


Kepala Balai Bahasa Provinsi Jambi, Drs. Muhammad Muis, M.Hum., menyatakan bahwa pelibatan maestro lokal merupakan langkah konkret dalam menguatkan kompetensi dan kecintaan generasi muda terhadap bahasa daerah. “Beliau tidak hanya pakar di bidangnya, tetapi juga menjadi penggerak pelestarian budaya Melayu Jambi melalui pendekatan akademik dan praktik langsung,” ujarnya.
Faridl Hakim sendiri mengungkapkan rasa syukurnya dapat berkontribusi dalam kegiatan ini. “Revitalisasi aksara Arab Melayu bukan sekadar pelestarian tulisan, tetapi juga warisan peradaban Melayu yang harus terus hidup dalam ruang pendidikan dan kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini ditutup dengan penampilan lawakan tunggal berbahasa Melayu dan penyampaian evaluasi oleh narasumber utama. Dengan adanya peran aktif akademisi seperti Faridl Hakim, diharapkan revitalisasi bahasa daerah tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi gerakan yang berkelanjutan dan berdampak nyata.